Eco Enzyme sebagai Langkah Menuju Zero Waste


Oleh Admin | Kamis, 15 Juni 2023 09:31 | 1293 kali


Trivia

Sampah masih menjadi masalah lingkungan dan kesehatan sampai sekarang. Berbagai upaya telah dicoba untuk mengatasi permasalahan ini termasuk melakukan upaya waste management. waste management adalah seluruh tindakan untuk mengelola sampah sebelum mencapai Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selama ini TPA memang masih menjadi jalan keluar dari pembuangan sampah. Banyak dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan yang dikarenakan penumpukan sampah di TPA. Bagi masyarakat yang tinggal disekitar TPA, adanya penumpukan sampah yang didominasi sampah organik ini menimbulkan bau tidak sedap. Sampah organik juga menghasilkan gas metana. Gas ini berbahaya untuk pernapasan.

Padahal sampah organik dapat menjadi bahan bernilai ekonomis dengan waste management yang baik. Salah satu upaya waste management adalah membuat eco-enzyme. Eco-enzyme adalah penanganan manajemen sampah dari sisa-sisa  sampah dapur. Secara tidak langsung, eco-enzyme akan menghasilkan zero waste. Apakah semua sampah bisa dijadikan bahan membuat eco-enzyme dan apa manfaatnya bagi kita? Baca artikel ini sampai selesai untuk menemukan jawabannya!

Apa Itu Eco-Enzyme?

Sebelum membahas eco-enzyme lebih jauh, tentunya Travelovers harus tahu terlebih dahulu apa itu eco-enzyme. Menurut website Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, eco-enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah sampah organik seperti ampas buah dan sayuran, gula meliputi gula aren / gula merah / atau gula tebu), dan air dengan perbandingan 3 : 1 : 10.   Cara kerja eco-enzyme yaitu mempercepat reaksi bio-kimia di alam untuk menghasilkan enzim yang berguna dalam pemanfaatan sampah buah atau sayuran. Eco-enzyme berkualitas ditandai oleh warnanya coklat gelap dan memiliki bau khas fermentasi asam manis yang kuat.

Apakah Semua Sampah Bisa Dijadikan Eco-Enzyme?

Jawaban pertanyaan di atas adalah tidak! Seperti yang udah dijelaskan pada bagian awal, eco-enzyme hanya bisa dibuat dari sampah sisa buah dan sayur mentah saja. Contoh bahan eco-enzyme adalah Sisa Potongan Sayur Hijau, buah, kulit buah mangga /  pisang / jeruk / sisa pandan, sisa sereh, bunga, dan biji. Tetapi, tidak semua sisa buah atau sayur dapat menjadi bahan eco-enzyme. Jadi kalau Travelovers punya sisa sayur atau buah yang sudah diolah misal digoreng, direbus, ditumis), busuk, berulat, berjamur tidak bisa dijadikan eco-enzyme ya. Buah yang memiliki kulit buah keras seperti kulit kelengkeng, durian, dan lain-lain juga tidak bisa digunakan untuk membuat eco enzyme.

Lalu, Eco-Enzyme Berguna untuk Apa?

Setelah Travelovers mengetahui apa itu eco-enzyme, tentunya travelovers pasti penasaran eco-enzyme bisa digunakan untuk apa saja? Jadi, eco-enzyme memiliki banyak kegunaan yang bisa bermanfaat untuk kehidupan. Eco-enzyme bisa dimanfaatkan menjadi pengganti pembersih lantai, piring, dan pestisida berbahan kimia karena mampu membunuh jamur dan bakteri. Secara tidak langsung, hal ini bisa menghemat budget Travelovers karena enggak perlu mengeluarkan biaya buat beli pembersih lagi. Eits, manfaat eco-enzyme tidak hanya itu aja lho. Eco-enzyme juga bisa dijadikan bahan untuk menyuburkan tanaman. Manfaat eco-enzyme yang lain adalah dapat digunakan sebagai bahan untuk menghilangkan bau sampah itu sendiri

Membahas tentang eco-enzyme, Travelxism sebagai perusahaan yang fokus dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan tentunya mendukung konsep waste management termasuk eco-enzyme di dalamnya. Melalui divisi Researcher Consultant, saat ini Travelxism sedang berupaya menjalin kerja sama dengan Guwosari Training Center (GSTC). “Iya, kami sedang kerja sama dengan GSTC untuk menghubungkan GSTC itu sendiri dan hotel-hotel yang ada di Jogja” ungkap Julieth, salah satu staf magang divisi Researcher Consultant. Sebagai informasi, GSTC adalah perusahaan pengolahan sampah organik maupun anorganik Yang mengembangkan kawasan one stop Waste Solution dengan mengintegrasikan perkebunan, perikanan, pengolahan kompos, Maggot, tempat pelatihan serta pengelolaan sampah plastik PVC, dan eco-enzyme. Kerja sama ini ditandai dengan kunjungan Travelxism ke GSTC beberapa waktu lalu untuk melihat bagaimana proses pengolahan eco-enzyme di sana. GSTC beralamat di Iroyudan, Guwosari, Pajangan, Bantul. Travelxism berharap bisa mengurangi sampah-sampah hasil dari aktivitas perhotelan dari terintegrasinya GSTC dan hotel-hotel di Yogyakarta. “Pada akhirnya apabila kerja sama ini terealisasi, nantinya akan tercipta kawasan zero waste di daerah sekitar hotel” pungkas Juliet.

 

Baca Juga: Gelar Training Kalurahan Ambarrukmo Agridaya, Peserta Siap Meningkatkan Kualitas Homestay di Yogyakarta

Share this Article